Wisuda dan Dies Natalis Ke XVIII Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Pada hari Kamis, 28 Agustus 2025, keluarga besar STT Moriah menggelar upacara Wisuda ke-XIV dan Dies Natalis ke-XVIII di Moriah Hills, Gading Serpong, dengan penuh sukacita dan rasa syukur. Kegiatan tahunan ini tidak hanya menandai keberhasilan akademik para mahasiswa, tetapi juga memperingati 18 tahun perjalanan STT Moriah dalam dunia pendidikan teologi di Indonesia.

Tahun ini, acara mengusung tema “Integritas di Tengah Krisis Moral: Menjawab Tantangan Kepemimpinan Kristiani dalam Dunia Pendidikan Indonesia yang Semakin Terkorupsi” yang diambil dari Amsal 10:9. Tema ini mencerminkan keprihatinan terhadap merosotnya nilai moral dan integritas di berbagai bidang, termasuk pendidikan, sekaligus menjadi panggilan bagi STT Moriah untuk terus membentuk pemimpin yang berkarakter dan takut akan Tuhan.

Mewakili para wisudawan dan wisudawati, Nofi Emelan Haning, S.Pd., menyampaikan rasa syukur atas kesempatan menempuh pendidikan di STT Moriah serta ucapan terima kasih kepada seluruh dosen, staf, dan keluarga yang telah mendukung selama proses studi. Ia menegaskan bahwa, “Wisuda bukan akhir dari mewujudkan panggilan Tuhan, melainkan awal dari perjalanan baru. Ilmu yang kita peroleh bukan untuk disimpan, melainkan untuk dibagikan dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama.”

Dalam sambutannya, Ketua STT Moriah, Dr. Antonius Missa, menyampaikan rasa syukur atas penyertaan Tuhan yang senantiasa menuntun perjalanan STT Moriah selama 18 tahun. Ia menegaskan bahwa keberhasilan akademik tidak hanya diukur dari pencapaian intelektual, tetapi juga dari pertumbuhan iman dan karakter yang mencerminkan Kristus. Pendidikan teologi, menurutnya, harus menjadi wadah pembentukan pemimpin yang rendah hati, melayani, dan berintegritas dalam menghadapi tantangan zaman.

Selanjutnya, Ketua Yayasan Moriah, Denise Tjokrosaputro, B.Sc., M.B.A., M.A., menyoroti pentingnya menegakkan nilai kejujuran dan kesucian di tengah dunia pendidikan yang semakin pragmatis. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa krisis moral dan korupsi telah merusak sistem pendidikan, sehingga gereja dan lembaga teologi harus menjadi garda terdepan dalam mempertahankan kebenaran serta menanamkan nilai integritas kepada generasi penerus bangsa.

Sementara itu, Pembina Yayasan Moriah, Dr. Elizabeth Sindoro, memberikan apresiasi kepada seluruh jajaran STT Moriah yang terus menjaga keseimbangan antara kualitas akademik dan spiritualitas. Ia menegaskan bahwa keunggulan akademik tidak akan bermakna tanpa fondasi iman yang kuat. Dalam arahannya, beliau mengajak seluruh civitas academica STT Moriah untuk terus menjadi lembaga yang berpengaruh dan berintegritas, yang mampu memberikan dampak nyata bagi gereja, bangsa, dan masyarakat.

Acara diakhiri dengan doa syukur, pemotongan tumpeng Dies Natalis, dan pengutusan para lulusan untuk melanjutkan pelayanan mereka di tengah masyarakat. Dengan semangat “Melayani yang Tak Terlayani”, STT Moriah terus berkomitmen untuk menjadi lembaga pendidikan teologi yang unggul, berintegritas, dan berdampak bagi kemuliaan Tuhan.