Gading Serpong, 28 Oktober 2026 — Sekolah Tinggi Teologi (STT) Moriah menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Teknik dan Pengalaman Penerjemahan Kitab Suci” bersama Phil Fields, linguis dan penerjemah Kitab Suci dari Yayasan Alkitab Bahasa Kita (Albata).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Gereja GPEI, Gading Serpong, ini diikuti oleh mahasiswa program S1, S2, dan S3, serta dosen dan staf STT Moriah. Kuliah umum ini menjadi bagian dari upaya STT Moriah untuk memperluas wawasan akademik civitas academica, khususnya dalam memahami hubungan antara bahasa, teks, konteks, dan proses penerjemahan Kitab Suci.

Memahami Proses di Balik Sebuah Terjemahan
Dalam pemaparannya, Phil Fields mengajak peserta melihat bahwa penerjemahan Kitab Suci merupakan proses akademis yang membutuhkan ketelitian, pemahaman bahasa, kajian teks, serta kepekaan terhadap konteks budaya pembaca.
Peserta diperkenalkan pada berbagai persoalan yang muncul ketika teks Kitab Suci dalam bahasa sumber diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Perbedaan manuskrip, struktur bahasa, konteks budaya, serta informasi yang tersurat maupun tersirat menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan dalam proses penerjemahan.
Melalui sejumlah contoh dari Perjanjian Baru, Phil menunjukkan bahwa perbedaan pilihan teks maupun pendekatan penerjemahan dapat menghasilkan bentuk terjemahan yang berbeda, meskipun teks tersebut menyampaikan pesan yang sama.
Pembahasan ini memberikan perspektif kepada peserta bahwa memahami Kitab Suci secara mendalam tidak hanya membutuhkan kemampuan membaca teks dalam bahasa terjemahan, tetapi juga keterampilan untuk memahami latar belakang teks dan konteksnya.


Ketepatan Makna dalam Penerjemahan
Salah satu pokok penting yang dibahas adalah perbedaan antara pendekatan terjemahan harfiah dan terjemahan berdasarkan arti.
Terjemahan harfiah berupaya mempertahankan bentuk bahasa sumber, sedangkan terjemahan berdasarkan arti berusaha menyampaikan pesan yang terkandung dalam teks dengan bahasa yang lebih wajar dan mudah dipahami oleh pembaca.
Phil menjelaskan bahwa terdapat jarak antara pembaca masa kini dengan pembaca pertama Kitab Suci, baik dalam hal budaya, pengetahuan, maupun konteks kehidupan. Karena itu, penerjemah perlu mempertimbangkan bagaimana pesan yang disampaikan dalam bahasa sumber dapat dipahami secara tepat oleh pembaca dalam bahasa sasaran.
Melalui contoh-contoh dari beberapa bagian Perjanjian Baru, peserta melihat bagaimana informasi yang tersirat dapat dijelaskan, gaya bahasa dapat diterjemahkan sesuai maknanya, serta susunan informasi dapat disesuaikan agar lebih natural dalam bahasa Indonesia.


Mengenal Terjemahan Sederhana Indonesia
Dalam sesi berikutnya, Phil Fields memperkenalkan Terjemahan Sederhana Indonesia (TSI) yang dikerjakan oleh Yayasan Albata.
TSI dikembangkan dengan perhatian khusus pada keterbacaan dan pemahaman pembaca masa kini. Pendekatan penerjemahannya menekankan tiga prinsip utama, yaitu wajar, jelas, dan tepat.
Pembahasan ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat bagaimana prinsip-prinsip penerjemahan dapat diterapkan secara konkret dalam teks Kitab Suci. Peserta juga diajak memahami bahwa berbagai terjemahan dapat dipelajari dan dibandingkan secara kritis untuk memperkaya pemahaman terhadap teks.
Bagi mahasiswa teologi, wawasan tersebut menjadi penting karena studi Kitab Suci tidak dapat dilepaskan dari kajian bahasa, hermeneutika, sejarah teks, dan konteks budaya.


Belajar dari Pengalaman Pelayanan Penerjemahan
Pengalaman Phil Fields dalam bidang linguistik dan penerjemahan Kitab Suci turut memberikan dimensi praktis dalam kuliah umum ini.
Pengalamannya melayani dan meneliti bahasa-bahasa lokal di Papua, termasuk menyelesaikan penerjemahan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Orya, memberikan gambaran mengenai kompleksitas sekaligus pentingnya pelayanan penerjemahan Kitab Suci dalam konteks masyarakat yang beragam. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa penerjemahan Kitab Suci bukan hanya persoalan bahasa, tetapi juga merupakan bentuk pelayanan yang membutuhkan ketekunan, ketelitian, dan pemahaman terhadap masyarakat yang menjadi penerima pesan.

Memperkaya Pendidikan Teologi di STT Moriah
Bagi STT Moriah, kuliah umum ini menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan teologi, linguistik, kajian Kitab Suci, dan pengalaman pelayanan.
Kehadiran praktisi seperti Phil Fields memberikan kesempatan bagi mahasiswa dan civitas academica untuk melihat secara langsung bagaimana pengetahuan yang diperoleh dalam pendidikan teologi dapat diterapkan dalam konteks pelayanan yang nyata.
Kegiatan ini juga sejalan dengan semangat STT Moriah untuk terus mengembangkan pendidikan teologi yang tidak hanya kuat secara akademis, tetapi juga relevan dengan kebutuhan gereja dan masyarakat.
Melalui perjumpaan dengan berbagai perspektif dan pengalaman pelayanan, mahasiswa diharapkan semakin terdorong untuk berpikir kritis, mencintai Firman Tuhan, serta mengembangkan kemampuan yang dapat digunakan untuk melayani gereja dan masyarakat secara bertanggung jawab.


Dari Ruang Kuliah untuk Pelayanan
Kuliah umum “Teknik dan Pengalaman Penerjemahan Kitab Suci” menjadi pengingat bahwa proses memahami dan menyampaikan Firman Tuhan membutuhkan kesungguhan, ketelitian, dan tanggung jawab.
Lebih dari sekadar mempelajari teknik penerjemahan, kegiatan ini mengajak peserta untuk melihat pentingnya menghadirkan Firman Tuhan dalam bahasa yang dapat dipahami tanpa kehilangan makna yang terkandung di dalamnya.
STT Moriah berharap kegiatan akademik seperti ini dapat terus menjadi ruang pertumbuhan bagi mahasiswa, dosen, dan seluruh civitas academica untuk memperluas wawasan serta memperlengkapi diri bagi panggilan pelayanan.

Melalui pendidikan teologi yang berakar pada Firman Tuhan, terbuka terhadap ilmu pengetahuan, dan peka terhadap konteks, STT Moriah terus berkomitmen mempersiapkan generasi pelayan Tuhan yang berintegritas, kompeten, dan relevan bagi gereja serta masyarakat.




